oleh: Mardiyanta, S.Pd, M.Pd. Widyaiswara Pada LPMP Provinsi Kalimantan Tengah
ABSTRAK
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pembelajaran model Jigsaw terhadap prestasi belajar fisika konsep gerak dengan memperhatikan tingkat aktivitas belajar. Metode penelitian yang digunakan adalah eksprimen dengan sampel penelitian adalah siswa kelas XI Jurusan IPA SMA Negeri 2 Palangkaraya yang berjumlah 34 siawa. Teknik pengumpulan data menggunakan angket, observasi dan tes. Data aktivitas belajar menggunakan angket dan observasi, data prestasi belajar kognitif dengan tes.
Hasil penelitian sebagai berikut : Pembelajaran model Jigsaw menghasilkan prestasi belajar fisika konsep gerak aspek kognitif lebih baik dari model konvensional. Perbedaan tingkat aktivitas belajar siswa mempengaruhi prestasi belajar pada aspek kognitif.
Kata Kunci : Model Jigsaw, aktivitas belajar, prestasi belajar
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sesuai dengan ketentuan yang tertera dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP) Pasal 19 ayat (1) mengenai standar proses, dinyatakan bahwa Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Dalam upaya menuju proses pembelajaran yang bermutu sesuai dengan rumusan proses pembelajaran dalam SNP, sekolah dalam hal ini SMA Negeri 2 Palangkaraya mendorong dan memberi kesempatan kepada guru untuk mempelajari dan mendalami kompetensi guru melalui diklat yang diselenggarakan oleh lembaga yang berwenang dan kursus singkat/pelatihan melalui In Hause Training (IHT). Dengan demikian diharapkan para guru memiliki kopetensi paedagogis dalam mengelola pembelajaran. Kompetensi paedagogis tersebut diantaranya kemampuan menguasai berbagai pendekatan, metode dan model pembelajaran.
Dikalangan siswa SMA telah berkembang kesan bahwa pelajaran fisika sulit untuk dipahami dan kurang menarik. Minat dan motivasi siswa untuk mempelajari fisika rendah. Hal tersebut merupakan akibat kurangnya pemahaman tentang hakikat, kemanfaatan, keindahan dan lapangan kerja dari fisika. Tidak sedikit siswa yang merasa stres ketika akan mengikuti pelajaran fisika, sehingga berakibat pada rendahnya mutu proses pembelajaran.
Model Jigsaw adalah termasuk pembelajaran kooperatif, dalam pelaksanaan pembelajaran siswa bekerja dalam kelompok hiterogen yang anggotanya 4 siswa, setiap siswa untuk mempelajari materi tertentu, siswa yang mendapat materi yang sama membentuk kelompok ahli atau kelompok expert. kemudian siswa kembali ke kelompok asal, dikelompok asal setiap siswa menjelaskan apa yang mereka peroleh dalam kelompok expert secara bergantian dan siswa yang lain diberi kesempatan untuk bertanya dan meminta penjelasan..
Aktivitas belajar adalah suatu kegiatan fisik dan mental yang diwujudkan dalam kerja sama , menciptakan kerja, dan proses berfikir yang terjadi secara simultan dalam kegiatan belajar. Belajar bukan merupakan konsekuensi otomatis dari penyampaian informasi kepada siswa. Belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus. Pada saat kegiatan belajar itu , siswa aktif melakukan sebagian besar pekerjaan belajar. Mereka mempelajari gagasan-gagasan, memecahkan berbagai masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Silberman (1996:29).
B. Permasalahan
Berdasar latar belakang masalah, maka dapat masalah sebagai berikut :
1. Apakah dalam pembelajaran menggunaan model jigsaw dapat meningkatkan pretasi belajar siswa untuk mata pelajaran fisika.
2. Apakah terhadap pengaruh antara tingkat aktivitas belajar dengan prertasi belajar siswa untuk mata pelajaran fisika.
C. Tujuan
Tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui pengaruh pembelajaran model Jigsaw terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran fisika.
2. Mengetahui pengaruh tingkat aktivitas belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran fisika.
II. DESKRIPSI GAGASAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Gagasan
Seorang guru dikatakan berhasil mengajar apabila dapat mengakibatkan kegiatan belajar pada diri siswa. Pada proses belajar dapat diamati jika pada diri siswa terjadi perubahan perilaku yang berbeda dengan sebelum belajar. Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para siswanya. Peran yang harus dilakukan guru adalah mengusahakan agar setiap siswa dapat berperan aktif dan kreatif dengan berbagai sumber belajar dan lingkungan yang ada.
Di dalam melakukan proses belajar mengajar, seorang guru perlu memperhatikan beberapa prinsip belajar sebagai berikut, Baharuddin (2007: 16)
1) apapun yang dipelajari siswa, dialah yang harus belajar, bukan orang lain. untuk itu siswalah yang harus bertindak aktif, 2) setiap siswa belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya, 3) siswa akan dapat belajar dengan baik bila mendapat penguatan langsung pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajar mengajar, 4) penguasan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan siswa akan membuat proses belajar lebih berarti, 5) motivasi belajar siswa akan lebih meningkat apabila ia diberi tanggung jawab dan kepercayaan penuh atas belajarnya.
Pembelajaran kooperatif dipandang sebagai proses pembelajaran yang dapat mengaktifkan dan menempatkan siswa sebagai subyek belajar. Karena siswa akan lebih banyak belajar melalui proses pembentukan dan menciptakan kerja sama dalam kelompok, siswa akan saling berbagi pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan serta pengembangkan sikap tegang rasa dan saling menghargai perbedaan-perbedaan.
Pembelajaran kooperatif dapat diartikan melakukan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu dan bekerja sama sebagai sebuah kelompok. Menurut Lundgren (1994:5) “pembelajaran kooperatif adalah gagasan tua. sejak zaman dulu abad pertama, berargumentasi bahwa dalam melaksanakan pembelajaran, orang harus mempunyai mitra belajar”. Menurut Mohamad Nur (2000 : 8′) “siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya, untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang komplek”.
Peran guru pada proses pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif berbeda dengan peran guru dalam pembelajaran tradisional. Pada pembelajaran tradisional guru terlihat sebagai satu-satunya sumber belajar yang memberikan informasi kepada siswa dan guru menganggap bahwa siswa yang baik menyerap informasi yang diberikan tanpa bertanya. Menurut Slavin (2008 : 217) “dalam pembelajaran kooperatif guru berperan sebagai nara sumber dan fasilitator belajar bagi siswa-siswanya”.
Dalam menjalankan peran sebagai nara sumber dan fasilitator ada beberapa hal yang dilakukan guru : 1) guru memberikan informasi yang cukup untuk merangsang pemikiran siswa. Siswa didorong untuk bertanya, mengemukakan pendapat, mengembangkan ide, dan berargumentasi tentang pendapat dan idenya. 2) guru harus merencanakan pembelajaran yang memberikan siswa untuk berdiskusi, mengeksplorasi ide-ide, dan bereksperimen dengan konsep-konsep ilmiah. Ketika siswa bekerja dengan aktivitas kooperatif, guru perlu memonitor secara teliti untuk mengetahui kemajuan yang diperoleh, dengan berkeliling diantara kelompok-kelompok yang ada untuk melihat bahwa mereka dapat mengelola tugasnya dan membantu tiap kesulitan yang mereka hadapi dalam interaksi kelompok.
Model Jigsaw adalah termasuk pembelajaran kooperatif, Anita Lie (2007 : 32) “dalam model Jigsaw jumlah anggota kelompok dibatasi sampai dengan empat orang saja dan keempat onggota ini ditugaskan membaca bagian yang berlainan”. Pelaksanaan model jigsaw melalui langkah-langkah sebagi berikut : (1) membentuk kelompok yang anggotanya heterogen dengan jumlah anggota 4-5 siswa, (2) menunjuk salah satu siswa sebagai ketua kelompok, (3) membagi materi menjadi 4-5 topik, (4) meminta siswa untuk mempelajari satu bagian tertentu, (5) memberi waktu pada siswa untuk membaca bagiannya agar mereka mengetahui apa yang harus dilakukan, (6) membentuk kelompok ahli atau kelompok expert. Siswa yang mendapat tugas sama membentuk satu kelompok dan mendiskusikan agar mereka benar-benar paham, (7) siswa kembali ke kelompok asal, dan memberi waktu kepada setiap siswa untuk menjelaskan apa yang mereka peroleh dalam kelompok expert dan siswa yang lain diberi kesempatan untuk bertanya dan meminta penjelasan, (8) guru berkeliling kelompok untuk mengobservasi prosesnya. Guru dapat memberi bantuan penjelasan jika ada suatu masalah pada kelompok, (9) pada akhir pelajaran siswa diminta untuk mengerjakan tugas atau tes untuk mengetahui seberapa materi yang telah di kuasai. Trianto, 2007 :56-57)
Student active learning merupakan konsep dalam proses pembelajaran yang menitikberatkan pentingnya siswa lebih aktif belajar dibanding dengan aktivitas guru sebagai pengajar. Menurut Nana Sudjana (1991 : 3) “aktivitas belajar siswa mencakup dua aspek yang tidak terpisahkan, yakni aktivitas mental (emosional, intelektual, sosial) dan aktivitas motorik (gerak tubuh) kedua aspek tersebut berkaitan satu sama lain saling mengisi dan menentukan”.
Hal yang sama menurut Nana Sudjana (1991,11-12) Aktivitas belajar siswa antara lain : 1) aktivitas belajar siswa secara individual untuk menerapkan konsep, prinsip dan generalisasi, 2) aktivitas belajar siswa dalam bentuk kelompok untuk memecahkan masalah, 3) adanya partisipasi setiap siswa dalam melaksanakan tugas belajar melalui berbagai cara, 4) adanya keberanian siswa untuk mengajukan pendapatnya, 5) aktivitas belajar analisis, sintesis, penilaian dan kesimpulan, 6) adanya hubungan sosial antar siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar, 7) setiap siswa dapat mengomentari dan memberikan tanggapan terhadap tanggapan siswa lain, 8′) adanya kesempatan bagi setiap siswa untuk menggunakan berbagai sumber belajar yang tersedia, 9) adanya upaya siswa untuk bertanya kepada guru dan atau meminta pendapat guru
Pembelajaran dengan model Jigsaw menuntut keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Pada kelas jigsaw tiap-tiap individu dalam suatu kelompok akan mendapat tugas tertentu yang berbeda dengan tugas teman lainnya dalam satu kelompok. Untuk dapat menyelesaikan tugas dengan baik yang meliputi menelaah materi dalam penguasaan konsep, kemampuan untuk menyampaikan konsep pada teman satu kelompok , menjawab pertanyaan diperlukan usaha dan keaktifan yang sungguh-sungguh. Yang perlu dikawatirkan pelaksanaan pembelajaran adalah dominasi kegiatan pembelajaran hanya pada siswa yang mempunyai aktivitas dan kemampuan yang tinggi. Sedangkan yang mempunyai aktivitas belajar rendah cenderung apatis dan tidak reaktif.
Dalam penelitian untuk menentukan tingkat aktivitas belajar siswa digunakan dua cara untuk menyaring data, yaitu : 1) dengan pengisian angket, angket yang digunakan berupa pertanyaan tertutup dan terdiri 25 pertanyaan, 2) observasi dalam pembelajaran. Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. Oleh karena itu, guru dapat melakukan observasi terhadap peserta didik yang dibinanya. Hasil pengamatan dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan. Observasi perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus tentang kejadian-kejadian berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah. Skala yang digunakan untuk mengukur aktivitas belajar adalah skala interval. Tingkat aktivitas belajar siswa digolongkan menjadi 3 kategori, yaitu : a) aktivitas belajar tinggi b) aktivitas belajar sedang , dan c) aktivitas belajar rendah
Prestasi belajar merupakan salah satu indikator kualitas dari proses belajar yang dicapai siswa. Prestasi belajar siswa dapat diketahui dari nilai/angka yang diperoleh siswa dibandingkan dengan nilai/angka yang diperoleh kelompok atau siswa lain. Prestasi belajar diperoleh setelah siswa mengikuti proses pembelajaran. Menurut Benyamin Bloom dalam Nana Sudjana (2002:46) “hasil belajar yang hendak dicapai digolongkan menjadi tiga bidang, yakni bidang kognitif, bidang afektif dan bidang psikomotorik”
Dari pernyataan di atas disusun diskrepsi gagasan sebagai berikut :
1. Pengaruh penggunaan model Jigsaw terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran fisika
Ketentuan SNP mengenai standar proses, dinyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik
Dalam upaya menuju proses pembelajaran yang bermutu sesuai dengan rumusan proses pembelajaran dalam SNP, SMA Negeri 2 Palangka Raya mendorong dan memberi kesempatan kepada guru untuk mengembangkan dan menggunakan berbagai metode dan model pembelajaran salah satunya adalah pembelajaran kooperatif. Ada beberapa alasan dalam pengembangan penggunaan pembelajaran kooperatif antara lain : a) pelaksanaan proses pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subyek pembelajaran belum optimal, b) kemampuan siswa untuk melakukan presentasi, diskusi masih lemah dan perlu ditingkatkan lagi, c) sikap kerja sama siswa untuk saling membelajarkan konsep fisis yang sulit masih lemah dan belum terbiasa. d) siswanya bersifat heterogen yaitu memiliki perbedaan dari suku, agama, bahasa, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi,
Model pembelajaran kooperatif menempatkan siswa dalam kelompok dan memberi mereka tugas serta menuntut mereka untuk bekerja saling keterrgantungan satu dengan yang lain. Para siswa menjadi cenderung lebih terlibat dalam kegiatan belajar karena mereka mengerjakan bersama-sama dalam kelompok.Model jigsaw, pemberian tugas yang berbeda kepada setiap siswa akan mendorong mereka untuk tidak hanya belajar bersama namun juga mengajarkan satu sama lainnya. Pada saat siswa kesulitan dalam menelaah materi fisika yang menjadi tugasnya, dapat didiskusikan dikelompok ahli (expert) terlebih dahulu sebelum kembali ke kelompok asal untuk saling membelajarkan dengan teman dalam kelompoknya.
peneliti meramalkan menggunaan model jigsaw akan meghasilkan prestasi belajar yang baik. Dikarenakan : a) model jigsaw mudah dilaksanakan, b) model jigsaw melibatkan semua tingkat aktivitas belajar , sebab setiap siswa mendapat tugas dan tanggung jawab masing-masing,
2. Pengaruh tingkat aktifitas belajar tinggi, sedang dan rendah terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran fisika.
Pelaksanaan pembelajaran yang terpusat pada guru terbukti gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Belajar akan lebih bermakna dan memberikan hasil belajar baik jika anak diberi peran aktif dan mengalami apa yang dipelajarinya. bukan mengetahuinya. Anak akan belajar dengan aktif apabila guru memberi fasilitasi belajar, fasilitas dalam belajar antara lain sumber belajar, LKS, alat praktek, media pembelajaran, dan segala sesuatu yang dapat membantu mempermudah anak dalam belajar.
SMAN 2 Palangka Raya sudah memiliki ruang laboratorium dan alat praktek fisika, namun alat praktek yang dimiliki sangat tebatas. Pada pokok bahasan gerak melingkar ketersediaan alat praktek tidak lengkap dan sangat terbatas , sedangkan untuk gerak paparabola tidak tersedia alat praktek. Karena keterbatasan alat praktek maka anak tidak dapat melakukan aktivitas praktek dalam belajar untuk pokok bahasan gerak melingkar dan gerak parabola. Agar anak tetap berperan aktif dan mengalami apa yang dipelajarinya, maka diperlukan suatu strategi dan metode pembelajaran tertentu, salah satunya adalah menggunaan pembelajaran kooperatif. Dengan menggunakan pembelajaran kooperatif akan membuat siswa aktif belajar, karena tanpa adanya aktivitas belajar proses pembelajaran akan memerlukan banyak waktu, tenaga, dan hasilnya kurang optimal.
Sedangkan aktivitas belajar sangat dipengaruhi oleh minat dan motivasi untuk memporeleh prestasi yang tinggi. Belajar adalah proses aktif, seorang siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran akan mencurakhan secara totalitas fisik dan mentalnya. Siswa yang terlibat secara aktif dalam pembelajaran maka kapasitas dan potensi dimiliki akan berkembang secara optimal. Dengan demikian siswa akan semakin besar peluang untuk memperoleh prestasi belajar yang tinggi.
Dari uraian di atas peneliti harapkan pretasi belajar siswa dipengaruhi oleh tingkat aktivitas belajar. Seoarang siswa mempunyai aktivitas belajar tinggi akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dibanding dengan siswa yang mempunyai aktivitas belajar rendah
B. Pembahasan
Prestasi belajar siswa untuk aspek kognitif dengan menggunakan model jigsaw mendapat nilai rata-rata 73,88 dan nilai rata-rata kelas untuk pembelajaran konvensional 66,94. berarti pembelajaran kooperatif model jigsaw menghasilkan prestasi belajar aspek kognitif yang lebih baik dari pembelajaran konvensional. Dalam pembelajaran model jigsaw siswa bekerja dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Siswa akan lebih banyak belajar melalui proses pembentukan dan penciptaan kerja dalam kelompok dan berbagi pengetahuan. Dengan pembelajaran kooperatif akan memberi peluang pada siswa untuk terlibat dalam diskusi, berfikir kritis berani dan bersedia ambil tanggung jawab untuk pembelajaran mereka sendiri. Sehingga tanggung jawab individual tetap merupakan kunci keberhasilan pembelajaran. Menurut Mohamad Nur (2001 : 29) pembelajaran model jigsaw , satu-satunya cara siswa dapat belajar sub-sub bab yang mereka pelajari adalah mendengarkan dengan sungguh-sungguh teman satu tim mereka , mereka termotivasi untuk mendukung dan menunjukkan minat terhadap yang apa yang dipelajari teman satu timnya.
Pembelajaran dengan model jigsaw lebih memberi peran secara aktif dan menuntut parsitipasi kepada semua siswa dalam suatu kelompok untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan. Namun dalam pelaksanaan model jigsaw di kelas masih ada kekurangan diantaranya siswa masih terfokus dan terbebani dengan tugas yang diberikan kepadanya, sehingga perhatian untuk mendengarkan penyampaian materi dari temannya masih belum terkonsentrasi sepenuhnya hal ini bertentangan dengan pendapat yang dikemukan oleh Mohamad Nur di atas, kendala yang lain adalah penggunaan waktu yang kurang efektif, dan apabila jumlah siswa banyak sedangkan ruangan tidak standar maka jalannya pembelajaran akan terganggu dengan gerakan dan suara yang ditimbulkan. .
Siswa dengan aktivitas belajar tinggi mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dari siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang dan rendah. Rataan prestasi belajar ranah kognitif kelas jigsaw untuk aktivitas tinggi dan rendah adalah 84,89 dan 66,62. Artinya terdapat pengaruh prestasi belajar yang signifikan antar siswa yang mempunyai tingkat aktivitas belajar tinggi dengan siswa yang aktivitas belajar rendah. Rataan prestasi hasil belajar aspek kognitif .
Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran merupakan hal utama dan sangat penting. karena konsep-konsep dan teori fisika akan mudah dikuasai dan diterima apabila siswa membangun/mengkontruksi konsep fisika dalam dirinya melalui aktivitas belajar. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model yang dapat menciptakan keaktivan siswa dalam belajar. Dalam model ini siswa dituntut untuk melakukan kegiatan yang berupa membaca naskah, menggali pengalaman, melakukan presentasi, melakukan diskusi dan berdebat dengan sesama teman serta menjawab pertanyaan. Dengan kegiatan seperti ini maka dalam diri siswa terjadi proses membangun konsep-konsep fisika.
Karena pentingnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran maka guru dituntut untuk mengetahui dan memahami aktivitas belajar, aktivitas belajar mencakup dua hal yang tidak terpisahkan, yakni aktivitas mental (emosional, intelektual, sosial) dan aktivitas motorik (gerak tubuh) kedua aspek tersebut berkaitan satu sama lain saling mengisi dan menentukan. Setiap manusia memiliki berbagai kebutuhan, meliputi kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial. Kebutuhan-kebutuhan tersebut akan menimbulkan dorongan untuk berbuat, termasuk perbuatan belajar dan bekerja.
Untuk dapat membuat siswa aktif dalam proses belajar , maka guru mempunyai tugas : a) memahami karakteristik siswa, b) memberi motivasi sehingga siswa berperan aktif dalam kegiatan belajar, c) menjelaskan kemampuan dasar, d) memberi stimulus berupa masalah, topik, dan konsep yang akan dipelajari, e) memberi petunjuk pada siswa cara mempelajari dan bekerja dalam kelompok, f) memunculkan aktivitas dan partisipasi siswa dalam bekerja, g) memberi umpan balik, h) melakukan tagihan terhadap siswa berupa tes, sehingga kemampuan siswa terpantau, i) menyimpulkan materi yang disampaikan setiap pembelajaran.
III. PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan kajian teori dan didukung adanya hasil analisis serta mengacu pada perumusan masalah yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Penggunaan pembelajaran kooperatif model jigsaw mempunyai prestasi belajar aspek kognitif yang lebih dari pembelajaran konvensional pada mata pelajaran fisika.
2. Siswa dengan aktivitas belajar tinggi mempunyai prestasi belajar aspek kognitif yang lebih baik dari siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang dan rendah pada mata pelajaran fisika
B. Rekomendasi
Upaya guru untuk meningkatkan penguasaan kompetensi siswa dalam pembelajaran fisika yang berupa menguasaan konsep-konsep fisika sangat diperlukan berbagai model pembelajaran. Berdasarkan kesimpulan, maka penulis mengajukan rekomendasi sebagai berikut:
1. Pembelajaran kooperatif model Jigsaw telah mampu meningkatkan percaya diri siswa dan berimbas pada peningkatan prestasi belajar. Model tersebut telah membuat siswa lebih aktif dan bertanggungjawab untuk menyelesaikan tugas yang telah diberikan kepada setiap individu siswa. Model jigsaw , hendaknya dilakukan dengan persiapan yang matang, sehingga pembelajaran dapat berjalan lancar sesuai dengan rencana. Beberapa hal yang perlu disiapkan dalam penggunaan model jigsaw antara lain :
a. Siapkan semua bahan pembelajaran yang akan digunakan sebagai tugas untuk tiap individu.
b. Bagi kelompok seheterogen mungkin sehingga terjadi interaksi siswa diantara kelompoknya.
c. Prediksi dan antisipasi masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pelaksanan pembelajaran
2. Perancangan kegiatan pembelajaran perlu memperhatikan tingkat keaktifan belajar setiap siswa, dengan harapan siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi dapat belajar lebih optimal, dan siswa yang mempunyai aktivitas belajar rendah dapat belajar lebih baik dan tidak menjadi apatis
C. Rujukan
Anita Lie, 2007. Cooperatif Learning, Jakarta : Grasindo.
Baharuddin dan Wahyuni E.N. 2007. Teori Belajar & Pembelajaran. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.
Depdiknas. 2006. Standar Nasional Pendidikan. Jakarta : Badan Standar Nasional Pendidikan.
Lundgren, Linda. 1994. Cooperatif Learning. New York : Glencoe Mc Graw Hill.
Mohamad Nur dan Prima Retno W. 2000. Pengajaran Berpusat Lepada Siswa dan Pendekatan Kontruktivisme dalam Pengajaran. Surabaya : Pusat Sains dan Matemática Sekolah Universitas Negeri Surabaya
Nana Sudjana. 1996. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Nana Sudjana dan Wari Suwariyah. 1996. Model-Model Mengajar CBSA. Bandung : Sinar Baru.
Pannen, Paulina. 2001. Kontruktivisme Dalam Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka.
Siberman, Melvin L. 2006. Active Learning. Bandung : Nusa Media.
Slavin, R.E. 1995. Cooperative Learning : Theory, Research and Practice. Boston : Asiman and Schuster Co.
Trianto.2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorentasi Kontruktivisme. Jakarta : Pretasi Pustaka