Bandung, Kompas – Pembelajaran ilmu sains, khususnya fisika, di jenjang sekolah dasar dan menengah sebaiknya didasarkan pengamatan dan bukan sekadar teori. Untuk mewujudkan hal itu, proses belajar-mengajar perlu didukung pemodelan atau eksperimen.

Demikian disampaikan pengajar ilmu pendidikan fisika Universitas Pendidikan Indonesia Omang Wirasasmita dalam seminar pararel membangun profesionalisme guru fisika, Sabtu (10/11) di Auditorium Gedung Fakultas MIPA UPI. Acara ini diikuti para wisudawan ilmu pendidikan fisika UPI dan perwakilan guru fisika se-Indonesia.

“Tidak semua gejala alam dapat disajikan di dalam kelas. Maka, diperlukan pemodelan yang meniru gejala aslinya yang dapat diamati, dipelajari, dan diulang. Di sinilah arti pentingnya media pembelajaran. Tetapi, karena alat peraga terbatas, guru dituntut terampil menciptakan alat itu sendiri,” kata Omang.

Konsultan pelatihan guru fisika Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas Kardiawarman menekankan perlunya perubahan paradigma pembelajaran ilmu fisika di kelas. Guru harus diposisikan sebagai fasilitator, tidak lagi “si mahatahu”. Konsepnya adalah pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM).

Pendapat senada diungkapkan Hikmat dan Iyon Susana dari UPI. Perubahan paradigma, menurut mereka, hendaknya diikuti pembinaan profesi pendidikan melalui pengkajian pembelajaran kolaboratif di mana kolegial dan saling menguntungkan menjadi prinsipnya. Pembentukan komunitas belajar menjadi sasarannya.

I Made Padri, pembicara lainnya, menekankan arti pentingnya pendekatan konsep dalam pembelajaran fisika. Guru hendaknya tak lagi terjebak pada rumus. “Pembelajaran berorientasi rumus mengakibatkan fisika menjadi ilmu yang sulit dipahami. Siswa dikondisikan menghafal. Selama konsepnya benar, fisika itu mudah dicerna dan dipecahkan,” ujarnya.

Berdasarkan analisis survei Parsaoran Siahaan terhadap guru fisika SMP-SMA, diperoleh kecenderungan, pengembangan media dan materi pembelajaran masih menjadi kesulitan bagi mereka (35,75 persen), selain pengembangan eksperimen dan demonstrasi. (jon)

Sumber: http://www.kompas.com/